Kamis, 04 Desember 2008
CATATAN TERAKHIR SEBUAH HARAPAN
yang hanya dilewati lalu dilupakan
kerikil-kerikilnya dihujati, dan padamu kembali dilemparkan
Tapi aku ingin melihatmu sebagai perhentian,
sebuah istana yang merengkuh dengan sangat nyaman
sebuah tempat dimana aku bisa berteduh untuk mencari kehangatan,
dari hantaman badai dan hujan
itulah sebaris harapan yang aku panjatkan
ketika segalanya akan tinggal kenangan
sambil berjanji terus mendentingkan nyanyian
yang dahulu kau ajarkan.
Ruang komputer, desember 2008
Minggu, 30 November 2008
Dulu... (Adakah kau tahu?)
dulu
kala kau membangun kebahagiaan dalam hidupmu
ada sebongkah batu tercecer.
kau tahu?
dulu
kala kau merajut untaian tawa dalam mengisi hari-harimu
ada sehelai benang terlepas
kau sadar?
dulu
kala kau melukis harmoni dan cinta untuk mewarnai hidupmu
ada cat yang tumpah
dan mengalir bersama hujan.
kau merasa?
dan kini
batu itu kembali
bersama benangnya
dan juga catnya.
batu itu
benang itu
cat itu
.... adalah aku
aku, masih merasa menjadi bagian dalam hidupmu, masih melintas di syaraf-syarafmu
masih mengalir bersama darahmu, masih berderak bersama detak jantungmu
masih bertiup bersama nafasmu
dan aku ingin kau mengambil keputusan mengenai keberadaanku
aku masih ingin berada di tengah kehidupanmu
Adakah kau tahu?
Sabtu, 22 November 2008
SHALALA LALA
biarkan angin meniupkan udara baru ke paru paruku pagi ini
dan aku akan bangun untuk pergi
mencoba berlari untuk merasakan cahaya sang surya
yang menerpa embun dan membiaskan warna-warna
di setiap pergantian hari
setidaknya ada satu bintang berdendang
sambil mengucapkan suatu janji
bahwa esok akan menjadi hari yang riang
dan orkestra alam yang menggema di seluruh penjuru alam raya
pagi ini menggaungkan satu nada ceria
benang sinaran mentari adalah tongkat dirigen yang mengayun menyinarkan warna
mengajak seluruh dunia bergembira
dalam satu irama ceria
katakan,
shalala lala.....
AKU TETAP MEMANGGILMU IBU (Ketika aku harus pergi dari sekolah ini)
Ketika lembar ke-15 dilukis pena hidupku
kala itulah kita bertemu
lewat dentang fisika yang mengalun diatas jiwa
kertas-kertas penuh dengan angka
formasi yang ingin disempurnakan jawabannya
tapi tangan kelu bisu tak bisa
menuntun membiru tinta
diatas kertas ulangan fisika
langkahku menyimpang dari apa yang aku minta
(ya udah, emang bukan jalanku taun depan ketemu fisika)
Ibu, meski kau tak ikut melahirkan aku
tapi disini kurasakan
ada talian yang sangat dalam
ketika doa aku panjatkan
disini, di tebing hati
ada damai merayapi jarak yang meninggi
kehangatan merambat memanjang
dan memformasikan wajah arifmu
ibu, aku selalu ingin menjadi sahabatmu
meski tak serumpun
dan bila harus berpisah
aku pasti masih mengingatmu
sebagai mutiara terindah sepanjang rok abu-ab
yang nanti akan aku rindu
(karena aku menyayangimu, ibu)
Terimakasih Ibu
Selama 3 tahun merengkuh aku
Yang berusaha menulis sajak diatas buku fisika
Meski tak sejalan
Namun kita akan terus menjaga nyala lilin persahabatan
Dan aku akan tetap memanggilmu ibu dengan penuh nada yang sayang
Senin, 03 November 2008
JALAN IMPIAN
tak pernah jelas kapankah kau akan hadir
kau datang bagaikan kilat yang kemudian pergi sangat cepat
lalu kini kau ada dimana? sampai kapan aku harus berharap
sampai kapan aku harus berdebar
dikala kereta kencanamu melewati jalan impian,
aku berdiri untuk cinta
menghormat untuk kedatangan yang kunanti selalu
aku hanya bisa melihat wajahmu dari jauh
berusaha merekam wajahmu di balik kaca
agar kenangan bisa kujaga
aku ingin melihat lebih jauh lagi, hingga menembus lembaran syaraf terakhir
untuk tahu dimana peluhmu berceceran
saat kau mencari kehidupan
bolehkah sebentar saja kujabat tanganmu?
sambil membaca doa untuk kita saat lahir dulu
hanya itu yang aku mau...
bintang bersinar yang kugenggam di tanganku
selalu memantikkan serpihan cahaya keinginan
sinarnya mampu menembus tulang rusukmu
dan membuatnya seindah mawar
mawar yang melambangkan indahnya cinta
tulusnya rasa
dan aku hanya ingin memberimu sebentuk bahagia.