Kamis, 23 Oktober 2008

ANTARA SUKARNO HATTA DAN TIDAR

Setiap lagu yang aku dengarkan
Gesek biolanya
Denting pianonya
Tarikan vokalnya
Semua membentangkan karpet merah
Dari arah sukarno hatta ke Tidar
Dari hatiku ke hatimu
Melihat kau menyambut
Dengan setelan jas hitam, sarung tangan putih
Dan mawar perak di dada
Aku hanya bisa menunduk tersipu
Membiarkan sinar bulan mengerlipkan mutiaraku
Dan menyemarakkan malam ini

Hati yang sepi
Merindu masa yang baru
Ketika khayalan tak lagi sebatas mimpi
Entah mengapa tadi, saat aku jauh darimu
Wangi segarmu terasa disini
Aku terjatuh meringkuk
Hanya bisa terdiam mengingatmu
Sesekali mencoba bertanya
Apakah aku telah lancang membiarkan diri terambil hatimu

Ketahuilah,
Sebesar apapun sesal panah cupid yang salah menancap
Tapi cinta adalah masalah satu orang
Ia boleh mencintai siapa saja
Sebesar apa saja
Tanpa harus disyaratkan cintanya terbalas
Dan tanpa harus diketahui oleh dunia
Bahwa dalam hatinya
Ia menyimpan cinta

Bila aku menyesal nanti
Kau tak perlu ikut peduli

Mungkin itu
Yang aku ambil darimu
Ketika kau bercahaya
Sepanjang jalan antara Tidar ke Sukarno Hatta


Ruang Komputer, Maret 2008

Tidak ada komentar: