Rabu, 31 Desember 2008

Bunga Tanjung dan Lampion Biru di Parkiran A1

Kini 20 hari perjalanan itu telah berlalu, bunga tanjungku
bila kubaca dari sinar wajahmu, aku tahu
bahwa arah sinar yang kau rancang telah tentu

bunga tanjungku, ketika angin berhembus ke selatan
kau selalu bilang "aku ingin pulang"
sambil menyinarkan lampion biru yang kemarin kita kerjakan

ketika engkau tersipu malu, aku tunjukkan baris-baris yang tergambar di langit
agar kau tahu bahwa jalan kita tak pernah sempit

bunga tanjungku, terekam olehku kisah saat aku menulis pesan di kaca berdebu
ketika di parkiran belakang A1 kau letakkan lampion biru itu
aku bertanya ada apa denganmu?

Bunga tanjungku,
aku masih menunggu hari itu
dimana aku akan pergi
membawa sinaran lampion biru
kau boleh tunggu aku di gedung A1

karena... bunga tanjungku,
aku akan berpindah haluan,
mengikuti manuver burung elang
menuju bukit untuk melihat matahari terbenam

aku akan berpindah haluan,
keluar dari dapur yang penuh jelaga
keluar dari laboratorium produksi boga yang menyimpan bangkai sapi dan ikan
keluar dari laboratorium pastry yang bergelayut sarang laba-laba
keluar dari laboratorium tata hidang yang atmosfernya kelam
keluar dari bau gas yang mulai menggerogot sukma

aku akan berpindah haluan,
melepaskan diri dari darah otoritas
yang semakin pekat ibarat kabut di hutan belantara

jalan ini masih panjang, bunga tanjungku
dosen dosen keterlaluan itu belum memasang penghalang
roket ini akan melaju kencang
aku akan terbang
membelah langit hitam
dengan sinar lampion biru tak terkalahkan

Rabu, 17 Desember 2008

SEBUAH PANGGILAN

Saat itu aku sedang melaju,

menembus lorong asa yang membentang

aku mengedarkan pandangan

ke kiri dan ke kanan

mencari secercah cahaya keikhlasan

saat itu pula ada yang memanggilku

suara yang sepertinya dulu pernah kudengar

"Pritha...! Pritha...!"

iya...?

"Pritha... ini saya!"

siapa?

"ini saya! bukankah sejak kuliah kamu sangat ingin bertemu saya, hingga kau merelakan kuda besimu kelaparan?"

Kau siapa? apakah kamu salah satu dari tiga ratus teman friendsterku?

"bukan!"

atau... orang yang chatting denganku minggu lalu?

"bukan!"

Lalu kau siapa?

"saya adalah cahaya yang kau cari di sela-sela benang emas kala mentari terbenam,

saya adalah cahaya yang kau cari saat langit terbelah petir,

saya adalah cahaya yang kau tunggu kala malam melarut.

kau ingat, pritha?"

kau siapa? Sesungguhnya begitu banyak orang yang aku cari.

aku mencari pak dekan, agar dosen-dosen tata boga  yang keterlaluan segera dilengserkan.

aku juga mencari kepala bagian administrasi pendaftaran, untuk tanya bagaimana cara pindah jurusan tanpa menunggu SNM-PTN datang.

aku mencari dirjen dikti, untuk tanya kapan SNM-PTN dilaksanakan.

aku mencari tentor geografi, karena itu materi SNM-PTN yang aku kesulitan.

kau siapa?

"Pritha, dengarkan hati nuranimu! kau ingin bertemu aku. sekarang lepaskan tarikan gas di tangan kananmu. Injak rem di kaki kirimu dan buka kaca helmmu. lihatlah ke barat."

dan aku nyaris tak bisa berkata apa-apa, ketika aku melihat tempat itu

tempat dimana aku dulu pernah terhalang untuk menunjukkan kasih dan kepedulianku

tempat yang terpotret dalam brosur yang aku terima saat kelas 3 SMA dulu

tempat itu...

"Pritha, kau ingat?"

Ya, aku ingat sekali. tempat yang hingga kini aku tanyakan apakah aku boleh kembali.

walaupun orang tak akan mengerti.

"Pritha, kau kini dapat menjawab kecamuk dalam hatimu selama ini,

bukankah kamu selama ini memang mencari aku?

setiap hari kau sisihkan waktu untuk mencari aku disini,

dan setiap hari itu pula kau belajar untuk mengikhlaskan,

dan belajar untuk mengambil sedikit cahaya keceriaan

walaupun tak selalu kita bisa bertemu - atau sebatas berpapasan"

aku terdiam. Mungkin ini cara Allah meng-ijabah permintaan hamba-Nya.

aku tak tahu apalah kini yang direncanakan-Nya kepadaku.

sebuah permintaan atas dasar cinta karena-Nya dan demi ukhuwah yang indah.

lorong ini semakin hampa, dan hening oleh desahan seribu manusia.

dan kini yang aku rasakan hanyalah wangi tubuhnya

seolah mengajak aku pada tahap yang lebih berarti daripada saling mencari

namun tak jua menemui

di hadapanku berdiri sosok yang aku nanti selama ini

sosok yang membuat aku merasa payah terhadap diri sendiri

namun segalanya akan menjadi berarti

aku genggam tangannya namun tak lama

dan tanpa diminta aku lepas jaketku

menunjukkan seragam koki yang membalutku selama ini

dan berkata, "tahun depan aku tak mau memakai seragam ini lagi"

ia tersenyum dan berkata,

"jangan menyiksa diri ya"

terasa lorong ini semakin melebar

memberi celah bagi seribu kupu-kupu untuk datang

beterbangan riang sambil menyanyikan lagu persaudaraan

ia lalu menggamit tanganku dan mengajakku berlari

ke tengah padang rumput luas menghijau

mengajak aku berteriak sekeras-kerasnya

dan merasakan hangatnya angin senja...



Geri Halliwell - Calling.mp3


Free Search Mp3 Code at www.codelagu.com



Senin, 15 Desember 2008

DIATAS NAMAMU

keretamu yang penuh cinta

kesekian kalinya melintas di depan mata

namamu, yang kini menghiasi mata hati

ada sepucuk suratyang berkata

bahwa kereta kencana selalu membawa pelita di setiap perjalanannya

kereta yang satu itu yang memperaki hari

dikala gelayut tak mampu lagi mendebar sang petir

tanyakan pada kusirnya

mengapa cinta ini belum sirna

masihkah kau bawa cinta, untuk kau gelorakan diatas namamu?

Diatas namamu, 

ada setetes asa

yang tak sebanding dengan airmata

dibalik kacamu,

tergambar satu bingkai kasih

yang tak renta digerogoti usia

aku mau merangkai tawa

atas khayalan yang sirna

bahwa ternyata aku tak punya alasan apa-apa

sehingga sempat aku berkata:

"sudahlah, kita jadi teman saja"

Jumat, 12 Desember 2008

PARADH -- Untuk Dosen-Dosen Tata Boga yang Beneran Kelewatan.

Seorang wanita berkepala tikus curut masuk ke kelasku

menebarkan aroma kebencian yang busuknya meradang

lidahnya yang berliur tai merangkai kata penghujam

yang membelah spektrum rona cahaya menjadi kelam

semua mahasiswa disini hanya bisa terduduk bisu 

tenggelam dalam ketunggalan yang memuncak mutlak

Otoritas telah menjadi hemoglobin dalam darah wanita itu

dan menjadi oksigen dalam udara yang dia hembuskan.

Iris matanya tak terprogram untuk membaca penderitaan

gendang telinganya terbuat dari logam yang tak bisa mendengar jeritan

keringat yang mengalir di sela jari kakinya menjadi belatung

yang disetiap kali ia melangkah menjadikan tanah UM berbau neraka

menyengat, menyebar ke seluruh penjuru UM.

Mendorong mahasiswa mundur dari langkah menuju kuliah

berpuluh kilometer di kampung halaman terdengar suara:

"Menjauhlah dari ia! kentutnya adalah api neraka

keadaanmu saat ini ia tak akan pernah paham

yang dia tahu dan yang dia ingin adalah melihat kamu pasrah

dan lupa bahwa niatmu suci memegang amanah"

Bayaran 100 nyawa baginya tak akan cukup

karena di hatinya sadisme tak akan puas

otoritas demi otoritas akan terus mengalir

hingga esok jurusan ini mencapai kata LIKUIDITAS.

Cmon let begin our rebellion against our F*CKING lecturers let make them feel Like SH*T let break the DAMN rules, let take back our freedom.

(Dikutip dari blognya Atal, temennya Ussi. FYI, saya setuju sekali dengan kalimat ini)

Kamis, 04 Desember 2008

CATATAN TERAKHIR SEBUAH HARAPAN

Aku tak ingin mereka melihatmu sebagai jalan,
yang hanya dilewati lalu dilupakan
kerikil-kerikilnya dihujati, dan padamu kembali dilemparkan

Tapi aku ingin melihatmu sebagai perhentian,
sebuah istana yang merengkuh dengan sangat nyaman
sebuah tempat dimana aku bisa berteduh untuk mencari kehangatan,
dari hantaman badai dan hujan


itulah sebaris harapan yang aku panjatkan

ketika segalanya akan tinggal kenangan

sambil berjanji terus mendentingkan nyanyian

yang dahulu kau ajarkan.


Ruang komputer,  desember 2008

Minggu, 30 November 2008

Dulu... (Adakah kau tahu?)

dulu

kala kau membangun kebahagiaan dalam hidupmu

ada sebongkah batu tercecer.

kau tahu?

dulu

kala kau merajut untaian tawa dalam mengisi hari-harimu

ada sehelai benang terlepas

kau sadar?

dulu

kala kau melukis harmoni dan cinta untuk mewarnai hidupmu

ada cat yang tumpah

dan mengalir bersama hujan.

kau merasa?

dan kini

batu itu kembali

bersama benangnya

dan juga catnya.

batu itu

benang itu

cat itu

.... adalah aku

aku, masih merasa menjadi bagian dalam hidupmu, masih melintas di syaraf-syarafmu

masih mengalir bersama darahmu, masih berderak bersama detak jantungmu

masih bertiup bersama nafasmu

dan aku ingin kau mengambil keputusan mengenai keberadaanku

aku masih ingin berada di tengah kehidupanmu

Adakah kau tahu?

Sabtu, 22 November 2008

SHALALA LALA

biarkan angin meniupkan udara baru ke paru paruku pagi ini

dan aku akan bangun untuk pergi

mencoba berlari untuk merasakan cahaya sang surya

yang menerpa embun dan membiaskan warna-warna

di setiap pergantian hari

setidaknya ada satu bintang berdendang

sambil mengucapkan suatu janji

bahwa esok akan menjadi hari yang riang

dan orkestra alam yang menggema di seluruh penjuru alam raya

pagi ini menggaungkan satu nada ceria

benang sinaran mentari adalah tongkat dirigen yang mengayun menyinarkan warna

mengajak seluruh dunia bergembira

dalam satu irama ceria

katakan,

shalala lala.....

AKU TETAP MEMANGGILMU IBU (Ketika aku harus pergi dari sekolah ini)

Ketika lembar ke-15 dilukis pena hidupku

kala itulah kita bertemu

lewat dentang fisika yang mengalun diatas jiwa

kertas-kertas penuh dengan angka

formasi yang ingin disempurnakan jawabannya

tapi tangan kelu bisu tak bisa

menuntun membiru tinta

diatas kertas ulangan fisika

langkahku menyimpang dari apa yang aku minta

(ya udah, emang bukan jalanku taun depan ketemu fisika)

Ibu, meski kau tak ikut melahirkan aku

tapi disini kurasakan

ada talian yang sangat dalam

ketika doa aku panjatkan

disini, di tebing hati

ada damai merayapi jarak yang meninggi

kehangatan merambat memanjang

dan memformasikan wajah arifmu

ibu, aku selalu ingin menjadi sahabatmu

meski tak serumpun

dan bila harus berpisah

aku pasti masih mengingatmu

sebagai mutiara terindah sepanjang rok abu-ab

yang nanti akan aku rindu

(karena aku menyayangimu, ibu)

Terimakasih Ibu

Selama 3 tahun merengkuh aku

Yang berusaha menulis sajak diatas buku fisika

Meski tak sejalan

Namun kita akan terus menjaga nyala lilin persahabatan

Dan aku akan tetap memanggilmu ibu dengan penuh nada yang sayang

Senin, 03 November 2008

JALAN IMPIAN

Penantian ini seakan tak berujung
tak pernah jelas kapankah kau akan hadir
kau datang bagaikan kilat yang kemudian pergi sangat cepat

lalu kini kau ada dimana? sampai kapan aku harus berharap
sampai kapan aku harus berdebar

dikala kereta kencanamu melewati jalan impian,
aku berdiri untuk cinta
menghormat untuk kedatangan yang kunanti selalu

aku hanya bisa melihat wajahmu dari jauh
berusaha merekam wajahmu di balik kaca
agar kenangan bisa kujaga

aku ingin melihat lebih jauh lagi, hingga menembus lembaran syaraf terakhir
untuk tahu dimana peluhmu berceceran
saat kau mencari kehidupan

bolehkah sebentar saja kujabat tanganmu?
sambil membaca doa untuk kita saat lahir dulu
hanya itu yang aku mau...

bintang bersinar yang kugenggam di tanganku
selalu memantikkan serpihan cahaya keinginan
sinarnya mampu menembus tulang rusukmu
dan membuatnya seindah mawar

mawar yang melambangkan indahnya cinta
tulusnya rasa
dan aku hanya ingin memberimu sebentuk bahagia.

Minggu, 26 Oktober 2008

AKU MASIH MILIK SMANAWA: nyanyian MaBa kangen SMA

sekitar 500 meter dari peraduanku
berdiri sebuah bangunan yang menyinarkan cahaya rindu
itulah SMANAWA, batu pijakan awalku untuk menjadi calon guru
aku kini telah pergi menjauh dari tempat itu
ke tempat guru-guruku menuntut ilmu dulu

diantara tugas-tugas yang tak tahu selesainya kapan
dan dosen-dosen yang memberi terlalu banyak beban
aku hanya bisa merintih perlahan
merapuh diterpa cahaya kerinduan

kucoba melangkah kembali kepada pelukan SMANAWA,
tapi yang aku rasakan hanyalah hampa
karena semua kawanku telah tak ada
mereka kini sepertiku, menjadi mahasiswa
dan aku tak selalu tahu dimana mereka

SMANAWA, aku masih ingin mengabdi padamu
tapi caranya bagaimana aku tak tahu
selama ini tetap kujaga ukhuwah dengan para guru,
dan aku bersyukur mereka terus mengingatku

bagaimana caranya agar aku dapat kembali kepadamu...
karena aku merasa masih menjadi milikmu

Kilat perak di ujung cakrawala

Wahai kilat perak yang membahana di ujung cakrawala
Andainya aku adalah bunga yang berada di sini setiap masa
Aku ingin menjadi seperti dulu lagi
Karena untuk mendapatkanmu seperti menumbuhkan mawar yang tak berduri

Wahai kilat perak yang membahana di ujung cakrawala
Aku bukan burung gereja yang terbang bebas merdeka
Kini aku kecewa karena telah habis masa pengabdianku
Sehingga aku tak punya lagi alasan untuk menunggu

Teringat dulu ketika pintu itu kau buka
Serasa aku kau ajak terbang tinggi ke angkasa
Merasakan angin segar yang kau bawa
Dan menjadikan aku makhluk yang paling bahagia
Di saat langit senja berangsur biru tua
Kau menguraikan selembar demi selembar awan kelabu ‘tuk memudar di angkasa

Bawa aku pada negeri hidupmu yang sesungguhnya
Pegang tanganku sementara aku berusaha berjalan diatasnya
Tunjukkan aku tempat-tempat yang harus aku lalui
Dan dimana nanti kita akan berhenti
Sepanjang jalan impian dan kehidupan yang akan mengukuhkan satu mimpi
Dan cahaya rahmat Illahi yang bersinar abadi

Wahai kilat perak yang membahana di ujung cakrawala
Tolong kabari aku jika alasan buatku masih ada
Untuk menunggumu datang kembali
Walau aku harus terjun ke peraduan matahari


Ruang komputer, 15 Juli 2008

FLASHBACK 1986-2008

Tahun 1986, dalam kemilau senja
Di sebuah bangunan tua di tengah kota
Seorang wanita dari sebuah kota kecil di selatan jawa
Berjalan ke kos-kosannya sambil memeluk buku fisika
Sambil mengingat wajah ayah dan bunda
Dalam hatinya ia berkata
“Aku pasti bisa! Karena aku menginginkannya. Begitu banyak orang yang menyayangiku dan aku ingin mereka bahagia. Aku akan menjalani ini semua dengan penuh cinta”

Mata beningnya menyorot ke segala penjuru
Dimana-mana bertebaran remaja dengan jas biru
Yang ingin menjadi guru
Bibirnyapun menyungging senyum setulus bulan sabit
Meyakinkan diri dalam menunaikan amanah yang sulit
Namun pahalanya tidak sedikit

Dua puluh satu tahun berjalan tak terasa
Dalam perjalanannya mengabdi pada negara
Sebagai penerang dalam gulita
Seorang siswi datang padanya
Membawa sebuah puisi dan vanilla cupcakes ditangannya
“Ibu pilih yang mana? Ambil satu bu! Ini hari ulang tahun saya. Saya sayang ibu. Terimalah sebagai tanda persaudaraan!”
Wanita itu hanya tersenyum dan menatapnya seperti matahari menerangi dunia
Dan ia mengambil dua-duanya
Ia berkata “Sukses ya….”
“Terima kasih. Doakan saya….” jawabnya.
Lalu terdengar suara kecupan yang penuh cinta

Dan kini sang siswi telah diterima
Di perguruan tinggi tempatnya dulu meraih sarjana
Dan jurusannya membawanya untuk terus berkarya
Tak hanya untuk dia, tapi juga untuk negara

Kamis, 23 Oktober 2008

AKU DISINI

Terbanglah tinggi
Seperti merpati
Aku akan selalu disini
Berdiri 
  Menanti
  Seperti pagi
Yang esok datang lagi

Tetaplah menjadi cahaya pelita
Tidakkah kau ikut bahagia melihat kami tertawa
Tidakkah kau ikut tertawa melihat kami bercanda
Tidakkah kau ikut bercanda ketika bosan melanda

Aku masih menghargaimu,
Jauh disana
Bersinar seperti garis-garis surya
Karena sayang ini akan selalu ada

XII IPS 3, Maret 2008

ANTARA SUKARNO HATTA DAN TIDAR

Setiap lagu yang aku dengarkan
Gesek biolanya
Denting pianonya
Tarikan vokalnya
Semua membentangkan karpet merah
Dari arah sukarno hatta ke Tidar
Dari hatiku ke hatimu
Melihat kau menyambut
Dengan setelan jas hitam, sarung tangan putih
Dan mawar perak di dada
Aku hanya bisa menunduk tersipu
Membiarkan sinar bulan mengerlipkan mutiaraku
Dan menyemarakkan malam ini

Hati yang sepi
Merindu masa yang baru
Ketika khayalan tak lagi sebatas mimpi
Entah mengapa tadi, saat aku jauh darimu
Wangi segarmu terasa disini
Aku terjatuh meringkuk
Hanya bisa terdiam mengingatmu
Sesekali mencoba bertanya
Apakah aku telah lancang membiarkan diri terambil hatimu

Ketahuilah,
Sebesar apapun sesal panah cupid yang salah menancap
Tapi cinta adalah masalah satu orang
Ia boleh mencintai siapa saja
Sebesar apa saja
Tanpa harus disyaratkan cintanya terbalas
Dan tanpa harus diketahui oleh dunia
Bahwa dalam hatinya
Ia menyimpan cinta

Bila aku menyesal nanti
Kau tak perlu ikut peduli

Mungkin itu
Yang aku ambil darimu
Ketika kau bercahaya
Sepanjang jalan antara Tidar ke Sukarno Hatta


Ruang Komputer, Maret 2008

ANGIN YANG INGIN BERMIMPI

Aku telah mendapatkan separuh denting nyanyian
Setinggi-tinggi khayalan
Sekekal-kekal lamunan
Dalam perjalanan mencari seseorang
Yang berani bilang bahwa cintaku selalu bertahan
Hingga dia timbul tenggelam

Ini bukan mimpi
Ketika sepuluh jariku menari
Diatas tombol-tombol yang dimakan usia
Merangkai suatu kata
Itukah cinta yang penuh makna?

aku hanya memainkan molekul udara
Seperti yang kini aku lakukan diatas lamun yang senyap

Hampa udara yang kini menaungi
Tak sekedar lagi mencari satu kata yang lebih berarti
Dan semua ini
Adalah sajak-sajak yang kurangkai di tengah kemelut angin yang ingin bermimpi
Yang mungkin sekali berharap dia akan datang


Ruang komputer, Maret 2008

SORE BERWARNA RINDU: Untuk The Lembang 1a Family

Tentang senandung akhir november yang kulantunkan di jalan lembang,
Di rumah hijau itu aku terus merangkaikan
Segala apa yang ingin aku ucapkan

Setelah cinta itu layu
Sendu bersama biru
Baru aku sadar 
aku masih butuh kalian
Baru aku tahu
cinta sudah tertanam di hati kita
Dan telah tumbuh menjadi pohon emas

Aku sangat sayang
Kepada setiap bunga yang kau tebarkan
Kepada setiap cahaya yang kau terpakan
Disini
Di SMANAWA
Tempat aku lagi-lagi jatuh cinta
Ternyata aku masih diliputi aura warnamu Selamanya

Tahu saat aku mengejarnya?
Aku lari dari X-3 ke XI IPS 1
Lalu ke XII IPS 3
Aku mengucur peluh diatas sepeda motornya
Berkaca di spionnya
Ternyata buliran air yang mengucur di sekujur tubuhku
Adalah bukan peluhku
Itu tangisanmu
Karena aku melenceng dari apa yang kau minta

Kini baru terasa
Kala aku jatuh cinta
Rindu yang suci hanya milik kita
Mengapa aku tak menghiraukannya

Sore yang hangat seperti dulu
Adalah yang aku rindu
Deru anginnya
Dan canda kita

Ruang Komputer, Februari 2008

PADUAN SUARA PUTIH

Awan putih berarak bersama ombak
Beranjak ke utara
Meninggalkan camar-camar yang menyanyi
Menyambut masa yang akan datang

Aku berdiri menyematkan mahkota
Terbang ke langit,
dan memimpin paduan suara putih di angkasa
Mengalunkan lagu-lagu mimpi
Dan keabadian khayalan tinggi
Hingga ke langit pagi

Satukan asa
Damaikan jiwa
Dan sambutlah bahwa mimpi itu nyata
Aku mengayunkan tanganku keatas kebawah
Menjadi dirigen paduan suara putih di langit pagi
Menghalu angin harmoni
Sayap-sayap putih melambai
Memimpin nyanyian...

I sail over seven seas
To find to your heart
I sail through the darkest night 
I sail to your heart
I sail over seven seas 
To find to your heart
I sail with the winter night, oh… 
Alone in the dark
(Sail Over Seven Seas, Gina T)



XII IPS 3, Februari 2008

MAWAR PADANG GERSANG

Aku sekuntum mawar, menyembul
Diantara bungkusan-bungkusan bulat coklat
Aku menari melambai-lambai
Melihat lilin di ujung pagi

Aku ingin dipetiknya
Kala aku meneteskan embun
Sambil mengulumkan senyum
Menangis karena bahagia

Semeter demi semeter
Sang saka merangkaki udara
Dimana merpati ikut menyanyi
Tangan kanan menengadah
Mencari hati diatas negeri
Aku mencoba merekah
Diantara gersang barisan

Aku mau bilang
Aku bunga mawar 
Menyembul di padang gersang
Memberi hormat tertunduk khidmat

XII IPS 3, Februari 2008

SI KILAT PERAK ADA DI PINTU GERBANG

Apakah aku masih layak untuk merasakan yang semula?

Percuma saja kau terbang seperti bintang
Yang mutiaranya tak lagi seputih nurani
Karena aku terkungkung dalam penjara gelap
Yang menjadikanku seperti orang aneh kalau berani keluar

Permintaanku datanglah lagi, kembali, sini
Seperti dulu diwaktu pagi, sabtu sunyi
Aku tak boleh keluar, mawar belum mekar
Seperti yang baru saja kejadian

Seperti kisah tangan terluka dan mata menangis
Itulah teladanmu, yang aku minta untuk kau bercermin diri
Kemudian ke sini
Segarkanlah temaram hati, karena cinta tak akan pergi
Ayo, aku masih berani minta

Sebelum kilat perak menyambar pintu gerbang
Temuilah aku disini, aku ingin memberikan
segenggam bintang untuk kau bawa pulang
ini, hiasanmu dikala remang


XII IPS 3, Februari 2008

PRIA KLORIDA

Tetaplah menjadi bianglala di tepi selimut pagi, pria klorida
Karena memang engkaulah jawabannya
Dari kegamangan kisah cinta
Diatas langit biru yang tersenyum haru

Ikrarkan cinta dalam setiap asa
Terpalah butir-butir keabadian mimpi ini
Dengan bunga kemenangan
Yang putiknya terbuat dari emas murni

Apalah artinya itu, sebuah kesempatan
Jika untuk melangkah kakiku ditahan
Jika untuk berkata lidahku dipegang
Jika untuk mendongak kepalaku dirunduk

Kau bukakan mataku pada pena-pena warga negeri ini
Dan mengajariku mengukir sajak diatas jejak para petinggi
Untuk dibaca dewi angkasa
Ceritakanlah pada aku lebih banyak lagi
Bulir-bulir yang harus aku kais untuk dibentang di atas hati

Seperti itulah kurasakan hangatmu
Seolah belum ada sebelumnya
Pria klorida di langit bersahaja
Yang memberiku mata kuliah ilmu jatuh cinta
Hingga kita sama-sama meluluh lantak airmata

Adakah hampa
Jauh disana
Karena aku melihatmu tertawa, dan aku bahagia
Hanya dari selempar senyum saja

XII IPS 3, Februari 2008

DIRIMU DALAM BAYANGKU

Kala aku tak bisa melihat wajahmu
Aku membelah tepi mahkotaku
Menguraikannya

Kala khayalan pun tak bisa mengukuhkan bayangmu
Aku memakai liontin lambangmu
Mengayunkannya – bersinar!

Kala rumus langkah-langkah tak mampu membunyikan suaramu
Aku memakai bajuku yang paling sopan
Untuk kemudian menyusuri jalanmu

Disitulah aku temukan dirimu
Terpantul dalam cahaya bayangku
Mencerminkan diri sendiri


With love, you show me how to be the real me
In the name of eternal fraternity


Ruang komputer, Januari 2008

IBU BERJAKET BIRU TUA (untuk Ibu Rusna Laksmisari di hari ulang tahun yang ke-39)

kau tepuk perlahan hati yang hening
dan bertanya, “kaukah itu, jiwa-jiwa yang dingin?”
kau buka pintu, kau sibak tirai
mencari langit biru untuk dibelai

dengan sebatang lilin kau susuri gua
mencari stalagtit yang menggantung paling tua
diatas sungai yang tak lagi mengalir
karena sungai itu adalah airmata kehidupan getir
kau tendang airnya. Cipratannya meluncur membasahi mata jiwa
seolah dia ingin berkata,
“untuk beberapa dari mereka, airmata emang gak ada artinya”

menyusuri setiap jengkal bentangan hidup
membuka pintu hati yang tertutup
kau datang menggebrak rindu senyap
sambil mengusap kilatan kaca di mata yang sembab

kaulah itu, ibu muda berjaket biru tua
yang datang jauh-jauh dari timur kota
untuk memberi makna
bagi setiap nafas yang aku hela

912: DIATAS LANGIT PAGI

Langkah tinggal sekian lembar
Awan-awan langsung bergetar
Dan aku menghela nafas
Berpikir menguntai senyum untuk membalas

Sajak-sajak langit,
Merangkai hikmah pagi yang rumit
Duh Tuhan.....

Akankah hal itu terjadi?

Aku memandangi langit pagi
Mencari bintang yang sinarnya tidak berhenti
Dan kau datang hari ini
Membawa warna yang aku lihat di langit tadi
Akupun seperti meringkuk ditengah ruang yang gulita
Lalu kau membanting membuka pintunya
Melihat bayangmu diterpa cahaya
Tegap sosokmu itu
Membuatku mau apa jadi tak tahu
Dan perlahan meleleh oleh sinarmu

Pagi ini mencoba memberiku arti
Apakah karena hari ini aku tak usah melihatmu
Tapi jauh dalam hati
Kaulah yang aku cari

Diatas kaca yang berdebu aku tulis namamu
Untuk dipantulkan ke atas cahaya
Sehingga saat aku meminta
Dunia akan menjawabnya

Di ujung mimpi
Lewat langit pagi
Akan kuberi kau mutiara hari ini
Sebelum lewat sepanjang hari

Kamar, Desember 2007

ISRA’ (NGGAK PAKE EL)

Kelam dan menggigil malam
Tak membuatku ingin padam
Angin yang menerpa malah menguatkan
Aku selalu ingin terbang
Ke pangkuan keangkuhanmu
Untuk menyalakan lentera kehidupan
Sepanjang jalan membentang

Diatas nama semesta
Kutuliskan sebuah pinta
Dengan tinta suci airmata
Setulus jiwa yang cinta
Karena hati yang minta

Aku tak melihat bintang yang menyaksikan aku berjalan
Padahal dia tahu ingin terbang
Dan impianku ada di alamnya
Aku tak mau pulang
Sebelum aku merasakan 
Berdiri di atas bintang pelukanmu

Nyanyian hati diatas permadani
Yang membentang ke istana hatimu
Membuatku ingin sekali
Terbang ke bintang di atas pelukmu


XII IPS 3, Desember 2007

KUPU-KUPU

Aku ada di sisi hatimu
Menari melompat-lompat
Memutari hati yang mencari cinta
Sambil menjelajahi diri sendiri
Apakah ada tempat untukmu
Aku sewarna denganmu
Seperti awan mengungkung bukit
Diatas sungai yang panjang sempit

Aku akan melebarkan sayapku
Dan mengepakkannya lebih kuat
Karena jika sewaktu-waktu kamu terbang meninggi
Aku tetap bisa mengimbangi

Aku ingin mengambil bibit yang kausemai ke tanganku
Dan menumbuhkannya di hampar hati
Biar esok lekas bersemi

Kita adalah satu warna
Dua kupu-kupu bercorak sama
Dan kaupun sudah menyadarinya
Kau tahu ini artinya apa? 

XII IPS 3, Desember 2007

TULISAN NURANI DIATAS MIMPI

Merpati pergi bersama pagi
Mencari dewi awang-awang
Dan menemukan mawar di tumpukan alang-alang
Memuji belaian lembut mimpi

Kemana perginya sepatah kata
Yang belumlah terucap jua
Oleh serbuan menderu angin
Ke segala arah yang dirasa mungkin

Aku tahu tulisan nurani
Dikala ia memeluk hati
Memberi satu persatu lembar jawaban
Atas keinginan yang belum kuteriakkan

Derap deru bulu merpati berlompatan
Ilhamkan kisah yang terus berjalan
Awal tahun yang akan dirajut
yang akan menyungkurkan kamu dari takut

XII IPS 3, November 2007

BERSANDAR DI KERETAMU

Bersandar di keretamu memperbaiki
Untaian nada memukul hati
Biar kenangan jadi nyanyian
Biar derap jadi talian harap

Bersandar di keretamu yang menanti
Permata hati sang bertiga untuk dipeluk lagi
Biar kugemakan shayne ward dengan stand by me
Biar kau dengar dan kau ikut menyanyi

Aku ingin kau mengerti
Aku inginkan berkali-kali
Tapi sekalinya kau memberi
Khayalan dan mimpi terbang dan pergi

Bersandar di keretamu aku bernyanyi
Sesendu haru biru stand by me
Tanpa kau ketahui 
Yang selama ini terjadi dalam hati
Tanpa aku sadari
Sekembalinya sang permata hati
Sepulangnya aku dari tempat ini

Sepanjang jalanmu kau dentingkan nada hati...

will you stand by me...
hold on and never let me go
will you stand by me
with you I know I belong
when the story gets told...

XII IPS 3, November 2007

BOREDOM OF LOVE

Samudera pagi membentang panjang
Seperti kerlip di tabir bintang
Merangkai wajahmu di sendu kelam

Aku ingin kau dengarkan
Aku ingin kau mintakan

Tersungkurku diantara dua bayang
Menusuk punggung laju sinaran

Aku mengerek benang menuju kedamaian
Dimana aku bisa teriakkan
Ini bukan bahagia yang instan
Tiada makna
Teruntai hampa
Adakah suatu hambar yang dimuaki kebosanan belaka,
Tak terelak dari kunai yang penuh luka

Sekarang
Tolong jangan suruh aku jatuh cinta
Tolong jangan suruh aku mendamba
Aku sedang bosan
Aku bosan
BOSAN

XII IPS 3, November 2007

TRANSFORMATIONS

Aku ingin berubah
Dari tunas menjadi mekar
Dari awan menjadi petir
Dari badai menjadi angin

Aku ingin menebar
Seperti sekarung bulu diapung alun biola
Dari menara ke seluruh dunia

Aku ingin membentang
Seperti permadani sutra bersulam emas murni
Sepanjang rumahku memandang rumahmu
Untuk menguntaikan kisah pembebat kalbu

Aku menutup mata hatiku
Dari lambai sorak perayu
Menguatkan rantai pencari
Dimanakah keteguhan sejati
Meneguhkan satu impian
Yang memberi memori terngiang
Sebagai persembahan berupa suatu kemenangan

XII IPS 3, November 2007

TAK BERTANYA

Tak bertanya mengapa sia-sia
Tak bertanya mengapa diam saja
Tak bertanya mengapa hasratmu tiada

apakah ini tak apa-apa
apakah siap menghadapinya
mengapa aku cuma tertawa

Jujur saja
Aku tak pernah bertanya
Padahal jawabnya sudah ada

XII IPS 3, November 2007

YA ROBBANA, BUNGA CINTAKU INI KENAPA??!!

Untuk bunga cintaku
Kini ia telah mekar mendewasa 
Bunga yang dulu kupeluk disetiap malam
Dan kutuliskan jalan mimpinya
Kini ia telah menjadi pujangga
Oleh karena salah jatuh cinta

Kala rok biru itu sudah ditanggalkannya
Dan pergi pagi-pagi dengan Honda
Seiring itu pula ia bercerita
Betapa berharga kini hidupnya 
Apalagi setelah dia ternyata salah jurusan
Dia merasa, betapa dia disayang Tuhan

Satu yang tak berubah darinya
Jika awan yang ditiupkannya berbentur
Bergemuruh menggema guntur
Menggelegarkan petir, dan iapun menangis
Dan ia mengelap matanya dengan bajuku

Panah cupid yang ia bawa
Selalu dia lempar kedepan kelas
sedari dulu!

Hingga dia terbawa gelora,
1.080 jam terbuang sia-sia
dia kenapa?

Selalu memperhatikan panahnya yang tertancap di depan kelas
Lalu dari sana mengalir darah..
Dan ia mencabut satu duri mawar dari korsasenya
Dicelupkannya pada darah itu
Lalu menulis puisi
Tentang cinta yang salah tiada berhenti....



Ya Robbana, bunga cintaku ini kenapa?!!

Kamar, november 2007

MENJERIT

Jika malaikat membawakan kembali
Selendang putih biru itu untuk menyelimut hati
Antarkan aku ke tempat dimana aku bisa mengelap intan kebahagiaan
Supaya ia kembali bersinar

Setiap sekon waktu yang ditempuh cahaya itu
Memberi aku sejengkal keyakinan
Dan merubahnya menjadi sebuncah energi
Untuk kemudian kuteriakkan
Keinginan itu – sekali lagi!

Dan langitpun gagal menggelayutkan kelabunya
Nampak sekali beraraknya tercabik-cabik
Hingga biru masih mau menampakkan diri
Dan patutlah aku tersenyum lagi
Derap kakiku diatas jalan yang basah
Mencari pelangi menghujam gunung

Aku berjalan menyusuri jembatan
Dan pantai dihadapku memberiku sebuah jawaban
Lewat burung camar yang menyanyi riang
Berupa deru angin yang menghangatkan
Hela nafasku – damai yang jarang kurasakan

Kemana perginya jiwa yang berani ingin,
Dan menganggap lolongan hanya sebagai nyanyian angin
Kini ia membentang luas sayap,
Sambil melatih hatinya untuk berteriak:

“aku masih ingin keluar dari cangkang pengap ini, sialan! Sudah, panggilkan satu aja malaikat untuk datang kesini. Suruh dia mbawa aku pergi ke istana yang dipeluk awan hijau!”


Ruang komputer, November 2007

HAMPARKANLAH JALANNYA

Suatu hari jika cinta tak mampu bicara
Suatu hari pintu diketuk tak akan terbuka
Menggerayahi setiap derap darap dalam hati
Meraba asa yang menyala kelam suci
Menemukanmu disini terduduk dan berdoa
Diatas sajadah basah

Gemericik dari ujung danau itu
Ingin mengatakan aku sayang kamu
Dan kau mencari salah pada dirimu
Percayalah selalu
Cinta bersemayam dihatimu

Sudahlah, peluklah dia
Dengan tangan yang telah halus
Dan ajak dia tertawa
Biarkan airmata terhapus
Akan bermakna membasuh jiwa
Hamparkanlah jalannya....

Aku tak mau terlalu jauh berkelana
Untuk merajut serta dimana cinta bahagia
Maka mulai hari ini gandenglah tanganku
Mencari pena dan tinta puisi jiwa
Menerpa aku diantara titik yang damai
Dan menghapus satu hampa


XII IPS 3, Oktober 2007

HARI ITU MEMBERI AKU JAWABAN

Ternyata beginilah rasanya padamnya api sebuah pinta
Ketika segala ratap berbau harap kini menyatu dan jadi nyata
Aku merasakan telah selesainya sebuah kisah cinta
Seiring diaraknya aku ke tempatku semula
Semua menepuk bahuku seraya berkata
Lagu baru pengiring langkahku kini telah tercipta
Dan ketika esok aku melihat wajahnya
Negeri cinta itu telah berubah menjadi ruangan hampa
Sambil dalam hati aku bertanya
“apakah benar cinta yang dulu penuh kini tinggal seperlima??!”
ketika kisah dalam diaryku sempurna
itulah tanda-tandanya
seekor ‘garfield’ di layar kaca
mengawali langkah baru jiwa pecinta
yang tak surut ditelan gulita

Take a look at me now
There’s just an empty space
There’s nothing left here to remind me
Just the memory out your face
Take a look at me now
There’s just an empty space
But the way to you
Is all I can do?
And that’s what I’ve got to take..
(Against All Odds, Mariah Carey)


XII IPS 3, Oktober 2007

BOLEHKAH AKU INGIN?

Andaikan aku mampu membawamu melalui garis-garis kehidupanku
Mungkin kau akan mengerti
Mengapa aku berani berkata seperti itu
Sebuah permintaan yang belum sekalipun terucap manusia manapun
Dan belum ada yang tertepuk untuk sudi memikirkannya
(berarti aku yang pertama kali melintaskannya di pikiran dunia. Hore.)
tapi karena orang tidak mau berjalan lebih jauh untuk melintasi manuver yang membentang di ladang nurani
mereka keburu berkata ‘kontra!’
sebelum tahu apa yang tersirat dalam rencanaku
saat kuajukan inginku itu
akan aku adakan pertemuan di hari kulminasi
untuk membahas betapa inginnya aku akan ‘hal itu’
sehingga kau tahu dan pihak kami memberikan senyuman berbunyi ‘setuju!’
Betapa hebat-MU Ya Rabb! Sempat Kau tanamkan dalam syaraf yang mungil ini, sebuah pemikiran untuk keinginan yang maha dahsyat!

Kamar, Oktober 2007

DEMONSTRASI AIRMATA

Andaikata aku bisa pergi
Untuk memetik indahnya mimpi
Kubawa kristal itu ke dalam hati
Ia menerobos, menyobek dan mengenyahkan batu sandungan
Demi terwujudnya impian

See, my tears is not strong enough to become a demonstrant
Ketika ratapan merantai kekuatan

Ingin kukatakan padamu
Sampai kapan kau menghalangiku?!

Orang-orang yang tidak suka
Melihat orang lain terwujud impiannya
Adalah mereka yang tidak punya impian
Dalam hidupnya....

Ruang Komputer, Oktober 2007

BENTANG LAYAR HITAM

kelas X-3!
Tahun pertama yang suram berakhir juga
oleh sebuah kegagalan yang menyayatkan tangis
perasaan itu yang menenggelamkanku sekian lama
tapi mengapa tahun itu dikenang indah terasa
apa karena kehadirannya? 

Dan lilin itu menyala lagi hari ini!
lihatlah cahayanya,
rasakanlah hangatnya,
cium bau apinya!
Merasuk hingga jurang terpanjang dalam lembar nadiku
Sungguh aku tercekat 
pada apa yang aku lihat di bentang layar hitam

terimakasih untuk tidak menghapusnya
aku ingin ikut meramaikannya
walaupun yang kubaca adalah salah satu warna
dari mutiara kehidupan yang hikmahnya tak bisa kurasakan lagi
entahlah apa ini – apa pula yang Dia rencanakan,
sehingga kala keharuanku diteriakkan
seluruh derap darahku melambai-lambai berlompatan
bersorak menyanyikan lagu kenangan yang sakit 
namun alirannya menderap hangat menenangkan
seperti menemukan dunia yang belum kutemukan
memetik keindahannya menjadi kalung hati yang menghiasi memori

memang sudah seharusnyalah kelebat sinarnya menghiasi layar ini
namun hanya tarian tangannya yang bisa 
menjadikanku berlagak ikan tua yang dilempar ke daratan
padahal puisi hidupnya sangat sulit kupahami
terangkai menyanyi untuk mendzolimi memori

rumus apa ini??


Kamar, Oktober 2007

THE JOURNEY STARTS NOW

Seorang gadis berjubah putih melaju kearah timur kota Malang
Motor tuanya membawa dia pada segaris cahaya,
Menuju kearah gerbang coklat megah yang berdiri sekian tahun
Ditengah kemewahan, diantara keusangan
Menyembulkan sebuah kesahajaan yang dimengerti
Makna yang terambil dari setiap mutiara nurani
Warna emasnya seolah tak ingin terkalahkan
Menjadi sulaman terindah dalam tirai hangat kenangan
Yang membentang sepanjang perjalanan

Seorang gadis berjubah putih melaju kearah timur kota Malang
Mencari petani yang tadi pagi menyemai benih cinta di ladang hatinya
Karena cinta berbunga sesaat bersama laju kecepatan cahaya
Dan si gadis terbawa angin hangat yang menderukan ringan bulu sayapnya

Kemana cinta?!
Dimana cinta?!
Apakah ini cinta?!

Nyanyian-nyanyian yang hidup dari hangat matanya
Menggemakan seluruh perumahan
Untuk membentangkan jalan impian
Melajukan si jubah putih mengarungi jalan raya
Menuju kristal cinta

Dan perjalanan dimulai,
Sekarang!

I’m reaching for you
Are you feeling it too
Does the feeling seems all so right
And what would you say
If I call on you now
Saying I can’t hold on
There’s no easy way
It gets harder each day
Please love me or I’ll be gone
I’ll be gone...

(All Out Of Love, Delta Goodrem ft Westlife)

Ruang komputer, Oktober 2007

HANYA KHAYALAN

aku mencarimu diantara khayalan
yang takkan jua padam
mengharapkan engkau untuk datang bersinar
hingga rinduku pudar

kau tak ada saat kucari
kau ada dimana
kau datang rembulan menjelang
seiring sedihku yang membuncah 
sepanjang siang
perih untuk selalu dikenang

dalam nyala harapan,
tengadah tangan
mengapa semua hanya dalam mimpi saja
dalam jalan rencana,
aku meminta
mengapa ini semua hanya khayalan?

sampai kapan aku harus berangan-angan
untuk bisa menggapaimu
aku tak mau lantakkan airmataku
kala aku mengenangmu

Kamar, September 2007

RANTAI BOWLING

Dia mengambil bola bowling dari toko olah raga
Lalu melepas rantai anjing peliharaan tetangga
Mengaitkan ujungnya pada lubang-lubang bola;
Dan menyiapkan kunci gembok nan perkasa

Dia memataiku saat aku mengelap sayap
Mencari kelemahan yang tertutup oleh gelap
Membuntutiku ketika aku mengambil ancang-ancang di genting
Sambil tangannya membawa rangkaian rantai bowling

Aku gerakkan sayapku keatas kebawah
Belajar terbang dengan keyakinan ini akan mudah
Hentakan angin dan gaya dorong merangkai energi kinetik
Tak disangka ia mulai menyusun gerak-gerik

Tangannya yang andal melilit kakiku dengan rantai bolwling
Mengunci rapat dengan gembok menggema bunyi gemerincing
Aku gagal terbang dengan bola boling segini beratnya
Menghentak percuma urat nadi kian tersiksa

Tuhan

Aku tak bisa pulang ke awan


Kamar, September 2007

DENTANG SEPANJANG JALAN: Sambil kutunggang kuda besiku

Mendung kelabu
Udara dingin pagi ini adalah nada yang menderap diatas kalbu
Sebagai sebuah getaran kata debar-debar
Dengan semangat sepanas abadi
Untuk menjawab panggilan hati
Tertepuk aku oleh darahku yang berdetak damai
Mengalirkan udara baru
Menyejukkan peredaran darah dalam dadaku

Masih kurasakan,
Ketika malaikat malam berbisik kepada bintang
Belai tulusnya mengatakan bahwa satu lembar sajak hidup telah berganti
Dibalik tirai aurora yang menyibak menaung langit

Aku mengetuk pintu menuju tempat dimana harapan jadi nyata


Kamar, Juli 2007

SELIMUT HATIKU ITU...

Entah mengapa aku merasa begitu dekat denganmu hari ini
Seperti pada saat bersama itu
Andai hari itu aku sudah memburumu
Tentunya aku bisa sangat bahagia
Karena kau akan terus menemuiku
Entah mengapa kini aku mengatakan kau jelmaannya,
Kau wakilnya, kau penggantinya,

Mengapa meski aku merasa tak enak,
Seperti dijejali tapai yang belum masak
Namun bisa kutangkap helai demi helai selimut hatiku
Yang melindungiku dari badai malam
Yang memberiku kehangatan sepanjang lelap

Ya – kaulah selimut hati itu...

Selimut hatiku,
Meski kau kumal,
Tapi kau hangat dan nyaman....
 
XI IPS 1, Mei 2007

DIA DIMANA???

Hening yang melajui seluruh penginderaanku
Melemparkanku pada sudut dinding-dinding yang berbaris panjang
Nyanyian-nyanyian yang datang turut menyempurnakan bayangnya
Menghadirkan suatu cekam yang penuh tanya

Dia dimana?
Dia dimana?

Dia dimana??


XI IPS 1, April 2007

MENYENTUH BINTANG

Aku kini menyadarinya
Bahwa dia sangatlah hebat
Dibalik wajahnya yang sayu dan suaranya yang lemas,
Ternyata dia bisa membarakan api
Yang kemudian membakar jiwa-jiwa yang kedinginan

Aku sangat bangga menyimpan cinta pada dia
Aku angkat topi setinggi-tingginya
Aku bangga pada dia...
Aku menghargainya...

Tapi aku tak mau menyentuhnya
Akan tetap kubiarkan dia
Aku tak mau menyentuh bintang yang baru terbentuk
Karena ia sangatlah panas
Dan aku bisa terluka karenanya

Wah, dia begitu berkharisma
Maka pantaskah aku menginginkannya?


XI IPS 1, April 2007

9 JANUARI 2007

Bila dalam setiap jengkal penantianku
Tiada firasat-firasat menghantui
Dan di luar selubungku tak ada yang mencium bau itu
Akan lancar segalanya,
Sebelum kurusak sendiri atas pembahanaanku...
Awang awang pada khayalan
Yang mengarah pada kenyataan

Aku percaya!
Bila aku selalu mengingat jejak-jejak kakiku
Kemana saja ia mengarah
Dan tanaman apa yang tertumbuh diatasnya
Maka aku bisa mengerti harus apa aku hari ini
Dan semua harus baik baik saja
Tanpa ada firasat dan curiga
Semua berjalan sesuai apa yang kukata
Ketahuilah.....

Mencoba untuk menangguhkan segalanya
Melupakan seikat mawar di tasku
Memusatkan segala tenaga pada lawan yang akan menyerangku
Mengenyahkan gigil yang menusuk tubuhku
Karena pemikiranku sendiri
Saat aku nanti harus menghadapinya






Kamar, Januari 2007

IMPLIKASI NURANI

Jika mereka adalah peri-peri kecil
Yang melompat-lompat riang dikala pelangi tersenyum
Maka resapilah tawa bahagianya

Jika mereka adalah bintang-bintang
Yang menghiasi tirai aurora tersibakkan
Maka jiwailah cahayanya yang hangat

Jika mereka adalah hamparan laut yang membiru
Yang berlomba-lomba mencium kakimu
Maka rasakanlah deburan-deburannya yang mendamaikan

Bila kaurasakan keharmonisan menyelimuti seluruh nadimu
Tuliskanlah setiap senyumnya pada semua manusia yang ada di pelukanmu
Ingatlah setiap kali kau merasakannya

Bukankah setiap satu satuan cahaya adalah sepercik kehangatan nurani?
Maka bahanakan mereka dalam fantasi
Bukankah senyum mereka adalah nafasmu?

Berilah senyum-senyum dan ulur tanganmu peduli,
Pada semua manusia yang bahagia dalam pelukmu
Sesungguhnya kata sayang teruntuk padamu
Murni dari hati mereka...

Kamar, Januari 2007

TENTANG CAHAYA YANG BERTEMU DENGANKU

Hatiku telah memerintahkan otakku untuk selalu
Menerbitkan kata “BENCI” kepadanya
Dan juga atmosfer-atmosfer yang dihembuskannya
Serta ideologi dalam jiwa yang menyatu dalam darahnya

Tapi tidak pada sinarnya yang memancar hangat...
Dia seperti pohon oak yang anggun lagi angkuh

Setiap senyumnya terlempar untukku kubalas dengan mencibir
Bukankah setiap satu satuan cahaya adalah sepercik kehangatan nurani?
Satu derajat kehangatan akan meningkatkan getaran jantungku
Yang berdetak-detak di setiap detik
Detakan yang memancarkan warnamu
Begitu indah untuk hatiku... tanpa terlintas duri-durimu....

XI IPS 1, November 2006

Rabu, 22 Oktober 2008

PERSAUDARAAN KITA

Ditengah padang rumput terhampar luas
Berdiri aku,
Sekuat-kuatnya kakiku
Menatap kearah birunya langit
Inilah senyum termanisnya tahun ini

Aku bersyukur pada Allah
Yang telah memberi kesempatan pada langit-Nya ini
Untuk tetap tersenyum ceria
Saat sang hujan kerap bertandang

Dan aku patut mensyukuri
Aku masih bisa berdiri
Tegar menatap langit
Memekikkan takbir sekuat-kuatnya

Diterpa angin mengalun lembut
Kunyanyikan lagu tentang persaudaraan
Antara kita semua
Ingatlah kita akan selalu bersama
Dalam ukhuwah terindah ini

Aku menyayangi kalian,
Aku menghargai kalian,
Aku saudara kalian

Ukhti fillah, rokhimakumullah
My sisters yang sangat sangat aku cintai karena 4JJI
Dengarkanlah aku bernyanyi
Sebuah lagu, tentang persaudaraan
Untuk kau maknai hari ini
Dan ingatlah selalu

Jiwaku adalah persaudaraan dan kekeluargaan oleh ikatan hati,
Maka akan kupertahankan ukhuwah ini

(Now it’s time to yell my favorite sentence)
ALLAHU AKBAR!!!!!!!!!!!!

Ruang komputer, November 2006.

SELINTAS KERINDUANKU

Memikirkanmu yang tak hadir hari ini
Memberi selintas kerinduan dalam hati
Meski telah kutahu bagaimana caranya
Untuk mendapatkanmu
Tapi aku tak bisa dan tak berani

Apa artinya bila aku tak bertemu denganmu?

Ah, aku lupa, bahwa manusia secuek kamu nggak akan mau meduliin aku
Dan kamu bilang, 
“siapakah sebenarnya kamu, mengapa kau menginginkanku??”
tapi aku tetap mengharap pengertianmu

oh, nekat banget sih aku? Terlalukah aku menginginkanmu?
Berani banget bilang begitu?

Bah, aku akan bisa mengendalikannya!
Aku janji!




Kalo cinta udah bicara......


Kamar, November 2006

DIRIMU, HARAPKU

Kudengar derap langkahmu diantara ramainya kami
Memancarkan keanggunan dibalik keangkuhan
Sorot matamu yang dingin dan misterius
Sifatmu yang cuek, tak peduli dan cool....

Tapi suaramu yang begitu hangat, dan tawamu yang renyah
Menghangatkan setiap jiwa yang dingin dan resah
Terasa dekat dalam pelukan.....
Menambah indah di setiap kebersamaan

Pesonamu yang tak akan hilang dari hati
Membuat saat bersamamu menjadi berharga
Dan akan kuperjuangkan saat itu.....
Selamanya

Lihatlah kearah diriku...
Aku terpaku pada wajah segarmu
Jatuh hati oleh getaran-getaran yang menghangatkan

Apa kau bisa tahu?


XI IPS 1, November 2006

DI PENGHUJUNG NOVEMBER

Pergilah.....
Pergilah kau kesana......
Lepaskanlah semua duri di tubuhmu
Dan di jejak-jejak kakimu
Koyak-koyaklah selubung api di tubuhmu

Hari itu,
Dia kembali ke pelukmu!

Bersamalah dengan ia...
Bawalah selamanya..
Catatkan bahagia itu di seluruh nadimu 
Percayalah,
Akan ada bahagia semacam itu!


Percayalah,
Asal kamu mau tahu...

Dan dengarkan selalu nuranimu

XI IPS 1, November 2006

SHARE MY LOVE WITH ALLAH

Aku kini sedang tak jauh dari tempatmu
Aku sedang mencari nikmat dan rahmat-Nya
Dan sesaat aku bertanya,
“Apakah aku mencintaimu karena Allah??”
aku harus mencintai-Nya....
mencintai-Nya diatas segalanya....
tapi besar keinginanku untuk terus mencintaimu...
aku ingin mencintaimu tanpa melupakan-Nya

akhirnya kucoba mengerti
mungkin saja karena aku mencintai-Nya
akhirnya Dia mempertemukanku denganmu
dan Dia mentakdirkanku memiliki benih2 cinta untukmu....

apa ini berarti aku mencintaimu karena Allah?
Rampal, Oktober 2006

JANJI

Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa......

aku memang mencintainya,
tapi aku bisa memegang kendali saat aku terbuai dalam kegilaan cinta
aku memang selalu melamunkannya,
tapi aku tak mau mengejarnya sampai ke ujung dunia sekalipun
aku memang menyukainya,
tapi bukan berarti aku meniru semua yang dia lakukan....
aku memang bertekuk lutut dihadapannya,
tapi tak berarti aku ingin mendekatinya dari hati ke hati
aku memang ingin memilikinya,
tapi aku tak bermaksud mengambilnya lalu membawanya pulang ke hidupku
aku memang suka memandanginya dan semua barang2 miliknya,
tapi bukan berarti aku ingin menyentuhnya
aku memang jatuh dalam peluknya,
tapi bukan berarti aku selalu ingin berada disampingnya

Memang aku menginginkannya....
Tapi akan kubiarkan ia bebas, sebebas merpati....
Karena aku bukan untuknya!

XI IPS 1, Oktober 2006

DARI ISTANA HATI

Bilakah aku menggapai asa..
Saat ruang temperaturku mencapai puncaknya,
Adakah aku menggapai sungai gletser?
Bilakah dia bawakan sedikit atmosfernya
Bertaut pada sudut-sudut hatiku
Hingga ditengah ruang pinta
Ada lilin yang tak pernah padam

Akan kutaruh mahkotaku diatas hatimu
Dan membawamu ke tahtaku
Di istana hatiku..
Kau akan memandang angkuh pada dunia
Dari dalam hatiku..
Memberi kesanan-kesanan yang anggun
Pada setiap sorotan matamu....

XI IPS 1, September 2006

Rabu, 15 Oktober 2008

PERGI

Kusemaikan bunga tidur bersemi indah
Melambai-lambai dengan riang
Membuai setiap insan dalam keheningan
Kau menyapaku dalam fantasi
Bergembira dalam dunia mimpi
Bersamaku merajut cinta itu....

Malaikat malam meminta aku terjaga
Bahagia itu masih menyala
Menghangatiku sebagai selimut
Memberi semangat baru

Aku terhenyak semakin tidak mengerti
Tahu kau kenapa ada bahagia ini?
Karena rasa cinta yang kita rajut dalam mimpiku tadi
Masih belum hilang dari hati
Ya, aku yang mencintaimu dalam mimpiku
Telah membawa cinta itu dalam dunia nyata

Dan kini aku mencintaimu
Tanpa ada yang tahu rasa itu, juga kamu

Cinta ini adalah anugerah terindah yang tak kusangka
Ia datang lewat mimpiku
Menyemangati langkahku
Tanpa aku tahu
Apa yang indah darimu?

Tapi aku bahagia selama mencintaimu
cukup mencintaimu seperti itu. sebesar itu. seindah itu.


Ya, cinta yang datang dengan sendirinya
Tahu-tahu pergi sendiri
Ya! Ia lari
Padahal aku masih ingin memiliki rasa cinta itu

Aku ingin mencintaimu lagi,
Tapi aku tak bisa.
Tak tahu kenapa......

Kamar, Maret 2006

AKU DATANG....

Aku bertahan dan tetap tegar
Walaupun aku sudah begitu lemah
Dan seluruh dunia tahu
Aku pasti akan kalah

Aku terus berpegang
Walaupun peganganku rapuh
Dan seluruh dunia tahu
Aku pasti akan jatuh

Aku terus berjuang
Walaupun aku selalu gagal
Dan seluruh dunia tahu
Aku akan gagal lagi

Tapi aku ingin setegar karang
Akan kubuktikan aku ini ada
Selemah–lemahnya orang sekarat
Setidaknya aku masih punya kekuatan
Yaitu hatiku yang masih terus berdoa
Ia ikut berjuang
Ia membantuku meraih apa yang kuinginkan

Aku yakin,
Seribu pintu akan terus terbuka
Allah masih sayang sama aku
Jalan takkan menghilang
Kemenangan itu akan kudapat
Walau tiada lagi yang membela aku disini

Sudah tiba waktuku untuk memperjuangkan
Apa yang aku inginkan sejak lama
Mereka tidak ingin melihatku meraih apa yang aku inginkan
Dan mereka tidak akan pernah memberi apa yang kuinginkan
Maka aku akan memperjuangkannya sendiri,
Dengan tanganku ini

Dimana ada keinginan disitu ada jalan
Karena itulah keyakinan

Allahu akbar!

X-3, November 2005

SERENADE AKHIR ROK BIRUKU

aku tahu,
perasaan seperti inilah yang akan kurindukan
saat kita sama-sama berjuang
dulu kita bersusah-susah
dalam mencari senang

pagi itu aku
memikirkan nasibku
di hari penentuan nanti
wajahku tak seceria dulu lagi
tak ada yang patut kusesalkan

musuh-musuh yang datang diambang pintu
tangan-tangan lemah minta kekuatan
genggam tangan mereka
tahu kan darimana kekuatan itu berasal?

hari itu kukerahkan tenagaku
apalah hasilnya

ya, kita harus hadapi kenyataan ini
saat ia berisyarat
satu jalan tlah terbuka
karena...

kita yang menang!
kita pilih jalan kita sendiri
seribu pintu terbuka lebar
melangkahlah kawan
pertempuran masih ada lagi

ini hari terakhir kita bersama
katakanlah

WE ARE THE CHAMPIONS!!


X-3, September 2005